Alexander Santoso


Alexander Santoso: Penciptaan Kekayaan Perspektifis Manifesto

Menciptakan kekayaan perspektifis

Dalam setiap disainnya, ia selalu memperhatikan kebutuhan klien. Kebutuhan-kebutuhan klien ini nantinya akan menjadi ide awal dalam sebuah proses disain. Dalam prosesnya, kebutuhan klien ini kemudian diwujudkan dalam jumlah dan besaran ruang. Kemudian bagaimana bentuk massa bangunan terjadi merupakan peran arsitek untuk mewujudkannya.Pemikiran paling mendasar dalam penciptaan bentuk masa bangunan adalah, dalam setiap karyanya, dia selalu berusaha untuk ’menciptakan kekayaan perspektifis’. 


Kekayaan perspektifis adalah, bagaimana kita menciptakan sebuah bentuk, sehingga dari sebuah titik pandang, masa bangunan dibuat kaya dalam bentuk dan sudut pandang.

Dalam hal ini, eksplorasi perletakkan massa merupakan hal yang penting, yang tentu saja perletakkan ini harus juga membawa banyak keuntungan bagi interior bangunan.

Kekayaan perspektifis tidak hanya diterapkan untuk fasad bangunan, namun juga harus dapat dirasakan manfaatnya bagi pengguna bangunan. 

Dalam menciptakan bentuk-bentuk interior, sequence merupakan hal yang penting. Baginya, sequence tidak hanya mementingkan pergerakan atau sirkulasi di dalam bangunan, namun juga bagaimana menciptkan suasana visual yang berbeda pada setiap titik. 

Fungsi ruang juga menentukan penciptaan karakter ruang. Misalnya saja, bagaimana sebuah entrance bangunan dibuat sehingga memiliki kesan mengundang, atau permainan suasana tangga, dimana dalam setiap ketinggian tangga, kita dapat melihat pemandangan yang berbeda pula. 

Hal ini dilakukannya untuk menciptakan pengalaman ruang yang kaya, hal ini tidak hanya dirasakan efeknya secara horisontal, namun harus juga dirasakan secara vertikal.

Konsep dan Visi

Tropikal 

Semenjak tahun 1993, proyek yang dikerjakan oleh Bapak Alexander berada di Indonesia. Oleh sebab itu, konsep dasar yang selalu digunakan dalam setiap disainnya adalah ’tropikal kontemporer’. 

Baginya tropikal merupakan pendekatan yang paling tepat dalam setiap disain yang ada di Indonesia apapun fungsi bangunannya. Disebut paling tepat karena dengan sendirinya tropikal akan menyelesaiakan masalah-masalah yang dapat ditimbulkan oleh iklim tropis. 

Penggunaan atap dengan kemiringan tertentu untuk mengalirkan air hujan, penggunaan teritis bangunan yang dapat menciptakan bayangan, penciptaan kolam-kolam untuk mendinginkan iklim setempat, merupakan beberapa contoh pendekatan tropikal.

Spacial Experience

    Menciptakan pengalaman tertentu dengan membuat ruang-ruang yang dinamis dan berkesinambungan. Hal ini diciptakan dengan pembuatan secara mendetail sequence yang akan diciptakan pada interior bangunan.

Time & Place Identity

    Speaks to the moment & place, take risks, transcendence to the future.
Kontemporer sendiri baginya adalah sesuatu ’untuk saat ini’. Oleh sebab itu, apabila dilihat disain-disain bangunannya dari tahun 1993, maka selalu terdapat perubahan. 

Perubahan ini baginya terjadi karena setiap masa atau waktu memilki kecenderungan yang berbeda juga, sehingga setiap penciptaan selalu memiliki proses yang berbeda, yang pada akhirnya dapat menciptakan produk yang berbeda-beda juga. 

Kecenderungan ini baginya juga terbentuk karena adanya alam bawah sadar. Belum banyak hal dapat ia ungkapkan disini, karena menurutnya pemikiran mengenai penyelesaian tanpa sadar ini masih dia gali dan kaji. 

Pada intinya adalah, semakin banyak kita membaca, melihat, dan  merasakan, maka dengan sendirinya masalah-masalah disain, serta penciptaan-penciptaan bentuk, akan terjadi dengan sendirinya. 

Baginya inspirasi dapat datang dari mana saja, oleh sebab itu, tidak mudah bagi dia untuk mengungkapkan siapakah arsitek yang paling mempengaruhi desain-desainnya. Peter Eisenman, Zaha Hadid, Alvarez-Kala, Tadao Ando, merupakan beberapa arsitek yang memberikan cukup banyak kontribusi pada alam bawah sadarnya. 

Baginya bukan peniruan gaya, namun bagaimana mencoba merasakan bagaimana ruang-ruang yang diciptakan oleh arsitek-arsitek ini.

Usage

    Usage instead of function
Dalam disainnya, dia lebih mementingkan kegunaan setiap ruang yang diciptakan daripada hanya memperhatikan fungsi ruang tersebut. Kegunaan tidak hanya berdasarkan fungsi, namun juga kebutuhan pengguna, dan penciptaan atmosfir untuk mendukung kebutuhan pengguna.

Layering & Repetitive


    Multilayer & repetitive elements.

Untuk menciptakan kekayaan perspektifis, bangunan dibuat multilayer, dengan penumpukan dan penyusunan beberapa masa, baik dalam bentuk massa yang sama ataupun beragam bentuk massa. 

Hal ini juga berkaitan dengan kegunaan dari setiap masa bangunan.

Repetisi dari elemen bangnan diciptakan sebagai pengikat dari massa-massa bangunan yang tercipta.

Balance in / between


    Composition, Proportion, Tone & Color, Surfaces & Materials, Grids, Massive & Transparent Characters, Elements: line, wall, box.

Keseimbangan dalam seluruh elemen di atas sangat diperhatikan. Semua elemen-elemen tersebut harus saling mendukung dan semuanya bertujuan untuk membentuk karater bangunan sesuai kegunaan pada setiap titik bangunan.
 

Studi Kasus

Permata Hijau House, Jakarta

Bangunan superimpose.

Tapak rumah ini berada pada hook jalan. Dalam kasus ini, dia berupaya untuk menciptakan kekayaan ruang tidak hanya bagi penghuni, namun juga bagi lingkungannya. 

Pada umumnya masa bangunan dibuat berbentuk huruf L, dimana bentuk L tersebut mengikuti sisi jalan, sehingga terbentuklah ’benteng’ yang akan menghasilkan inner court pada bagian tengah bangunan.

Namun, bagi Pa Alex, bentuk seperti ini tidak akan memberikan banyak kontribusi pada lingkungan. Oleh sebab itu, maka dia membuat masa huruf L dengan sisi yang menempel dengan dinding tetangga. 

Dengan begitu, maka akan tercipta ruang terbuka yang lebih besar pada bagian depan bangunan.

Untuk memisahkan antara ruang dalam dan ruang luar pada ruang terbuka, maka digunakan dinding dengan material kaca. Material transparan ini dipilih sehingga tidak membatasi ruang terbuka secara visual, namun dapat memberikan rasa aman dengan kehadiran dinding sebagai pembatas. 

Kolam sebagai media untuk merubah suhu bangunan dihadirkan di sini. Bahkan fungsinya lebih dari itu, kolam juga berfungsi sebagai batas antara ruang luar dan dalam.
Lantai dua pun berbetuk huruf L. Namun perletakannya tidak tepat berada di atas massa L lantai dasar, sehingga dapat menciptakan ruang di belakang huruf L tersebut. Selain itu huruf L ini dibuat lebih panjang. 

Hal ini untuk menyiasati GSB, dimana pada lantai dasar bangunan harus berada di dalam GSB, sementara lantai dua bisa melebihi GSB tersebut, sehingga volume ruang bisa lebih besar.
Yang menarik dari massa lantai dua ini adalah, massa bangunan diputar pada satu titik untuk menciptakan sudut perspektif yang berbeda. Dengan begitu, maka bangunan seperti memiliki banyak muka. 

Titik yang diambil sebagai pusat putaran adalah titik dimana apabila perputaran terjadi maka akan selalu menguntungkan untuk interior bangunan.

Tentang Alexander Santoso

Pencarian identitas diri kami dalam berarsitektur masih berlangsung sampai saat ini. Kalaupun didapati pengulangan gaya design, hal itu merupakan proses evolutif dalam mencari bentuk yang lebih berkarakter. 

Dunia dan perubahannya yang berlangsung terus menerus,membawa kami untuk bergerak secara responsif terhadap apa yang sudah dan akan terjadi di sekitar kita.
Tak pernah ada kata cukup bila mengukur karya-karya kami dalam rentang waktu. Dua belas tahun berjalan dalam proses artikulasi ruang tetap menyisakan rencana akan kesempurnaan layanan. 

Petualangan dalam relasi antara proses dan hasil akhir, mutu dan biaya, masif transparan, berat ringan, kasar ataupun halus adalah permainan yang dapat kami alami, akhiri dan menangkan. 

Mewujudkan pengalaman unik dengan menciptakan ruang-ruang dinamis dan berkesinambungan, menyusun komposisi dan proporsi massa yang terjaga akan melebur serasi pada keseimbangan faktor kegunaan.

Ruang-ruang yang tersaji berikut dengan berbagai perubahannya ini harus ditempuh dan dimaknai.Yang kami ketahui hanyalah, esok perjalananan kita lebih baik.

Selamat berpetualang!


www.wastuciptaparama.com

Curiculum Vitae
Nama        : Ir. Alexander Santoso
Telepon     : 022.2030630
Kantor       : Jln. Neglasari Dalam no. 16 B, Bandung
Website    : www.wastuciptaparama.com

Latar Belakang

  • Kuliah di Universitas Katolik Parahyangan: 1985 
  • Mendirikan Wastu Cipta Parama:1993
Penghargaan
  • Juara Pertama Kompetisi Disain JPO – Halte Trans Jakarta: 2001 
  • Juara Pertama Kompetisi Desain Gereja: 2001
  • Juara Harapan Pertama Desain Rumah Susun: 2001

Basauli Umar Lubis


FUNCTIONAL, CHARMING, PROGRAMMATIC ARCHITECTURE

Functional

Titik keberangkatan sikap dalam berarsitektur adalah berangkat dari penggunaan, berangkat dari proses pemikiran bagaimana pengguna menggunakan & mengartikan ruang. Karakter bangunan terbentuk dari  sifat pengguna dan pengunaannya. Arsitektur yang baik adalah ketika arsitektur dapat memenuhi tingkat kebutuhan & kenyamanan dengan baik. Letak tingkat kreativitas arsitek terletak pada bagaimana menterjemahkan dan menjawab kebutuhan dengan baik.




Estetika atau bentuk merupakan secondary step. Namun tidak menutup kemungkinan jika bentuk hadir pertama kali didasarkan tujuan/fungsi, seperti halnya bilbao yang hadir dengan tujuan menarik wisatawan. 

Estetis/Bentuk  lahir dari penggunaan, bukan sesuatu yang diada-adakan. Ruang/simbol dalam arsitektur harus dapat dimengerti oleh pengguna. 

Dan yang tidak kalahnya pentingnya adalah Karya arsitektur yang baik adalah karya yang dapat di uji.

Studi Kasus
Semarang Golf Club House


Dalam perancangan Club house, penggunanya adalah kelas menengah ke atas. Kelas menengah ke atas memiliki karakter yang mapan. Segi privasi dan keintiman menjadi ukuran penghargaan dari sebuah kemapanan. 

Pada akhirnya arsitektur yang hadir adalah arsitektur yang memilliki hubungan ruang yang intim dan sophisticated. Ruang yang hadir bukan ruang publik yang terlalu terbuka namun ruang publik yang intim.

Charming

Karya arsitektur akan baik dan akan tetap eksis apabila karya tersebut memberikan kesan mendalam/CharmIng baik dari segi fisik maupun psikologis.  

Impresi mendalam tidak harus dicapai dengan sesuatu yang spektakuler, namun dapat tercapai ketika manusia/pengguna merasakan manfaat yang banyak dan kesan yang mendalam bagi pengguna. 

Kesan charming ini dapat dicapai dengan memperhatikan skala manusia, orientasi, dan sirkulasi manusia selain esensi dasar kebutuhan yang telah terpenuhi. 

Arsitektur yang anggun adalah arsitektur yang memanusiakan manusia.

Studi Kasus
Semarang Golf Club House

Ketepatan Skala manusia dan kenyamanan pergerakan fisik & visual menjadi pertimbangan utama dalam perancangan club house tersebut. 

Dengan hal ini maka tingkat kenyamanan tercapai dan secara tidak sadar pengguna/manusia akan merasa menyukai bangunan tersebut.

Programmatic

Program dalam arsitektur merupakan tingkat kreatifitas tertinggi dalam arsitektur. 

Program dalam arsitektur merupakan pemaknaan dan solusi untuk menjawab kebutuhan. Programmatic memiliki pengaruh besar dalam penentuan arah karya arsitektur. 

Selain isu kontekstual yang sudah menjadi kewajiban arsitek, arsitek harus melangkah lebih tinggi lagi, untuk bisa mengevaluasi kekuatan tempat. 

Arsitektur akan baik jika menghasilkan sinergi kegiatan di dalam dan hubungannya dengan lingkungan luar.


SITE

Kekuatan tempat merupakan kunci terbentuknya program arsitektur. Kontekstual terhadap site sudah menjadi kewajiban Arsitek, namun di luar itu arsitek harus bisa ke tingkat lebih tinggi lagi. 

Arsitek harus bisa mengevaluasi site dan menjawab kebutuhan & potensi kekuatan tempat dan menterjemahkannya ke dalam program arsitektur.

CONTOH KASUS LAIN PEMIKIRAN

Contohnya dalam Bangunan sekolah berasrama, penggunanya adalah siswa yang belajar serta tinggal di dalam area sekolah.  Dengan melihat ini maka, timbul pemikiran bagaimana mengembalikan suasana/lingkungan rumah dalam lingkungan sekolah. 

Caranya adalah dengan menghadirkan ruang formal, informal & nonformal. Saat siswa kembali ke hunian diharapkan menjadi manusia yang hidup seperti biasa. Lingkungan sekolah asrama dapat dilihat sebagai satu kesatuan kota.

Dalam bangunan Pelelangan ikan, aktivitasnya adalah pelelangan dan diperlukannya pengawasan. Dengan melihat proses bagaimana manusia beraktivitas maka timbulah bentuk arsitektural bertingkat dua. 

Pada dasarnya pelelangan ikan hanya terdiri dari satu lantai. Namun dengan melihat aktivitas pengawasan sebagai salah satu bagian yang menentukan wujud arsitektural, munculah bangunan berlantai dua. 

Selain itu hal ini juga dapat mengakomodasi pertukaran udara. Arsitektur yang hadir tidak diada-adakan, namun hadir karena penelusuran aktivitas manusia.

Eko Purwono


Pragmatic Arsitektur
Menggali Lebih Dalam Nilai-Nilai Lokal

Sekilas tentang Ir. Eko Purwono, Ms. Arch. S
Eko Purwono, sosok arsitek yang dikenal selain sebagai seorang dosen jurusan Arsitektur (kira-kira sudah 29 tahun) di Intitut Teknologi Bandung juga dikenal aktif di Dewan Pendidikan Kota Bandung dan menjabat sebagai Ketua Yayasan MP2I (Masyarakat Pemerhati Pendidikan Indonesia). Karakternya yang dapat dikatakan kritis dalam mengutarakan pendapatnya terutama terhadap dunia pendidikan di Indonesia menggambarkan komitmen Eko Purwono sebagai sosok seorang pendidik serta sebagai arsitek yang memiliki prinsip yang kuat dan dikenal di kalangan komunitas arsitektur baik dari dunia akademisi dan praktisi.


Pandangan Tentang Manifesto Arsitek International

Menurut Eko Purwono, yang dikenal sebagai ahli di bidang Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur, bahwa biasanya yang senang ber-‘manifesto’ adalah arsitek-arsitek muda (penulis mengartikannya dengan arsitek yang berusaha mencari identitas) dan yang paling menyukai manifesto itu adalah arsitek-arsitek Italy pada tahun 1919 (jika dibandingkan dengan arsitek Amerika dan Inggris).

Eko Purwono juga menambahkan bahwa arsitek dalam berkarya terkadang tidak memiliki konsep atau memakai konsep tetapi tidak dapat menceritakan konsep tersebut.

Eko Purwono memberi gambaran manifesto yang dilakukan oleh Peter Eisenman, dimana Eisenman mencoba mengganggu tatanan yang sudah ada dan kemudian mampu merumuskan kembali secara akademik setelah itu dijadikan sebagai salah satu sarana menawarkan karya Eisenman kepada masyarakat.

Pandangan Tentang Manifesto Arsitek Indonesia


Arsitek Indonesia sebaiknya memiliki manifesto yang murni dibuat oleh arsitek itu sendiri agar betul-betul terdapat perenungan, pemahaman dan kesadaran yang penuh dalam pencarian identitasnya. 


Dengan demikian, autobiografi/monograf yang dihasilkan tidak hanya sekedar berisi kronologis perjalanan hidup dengan daftar karya-karya yang dihasilkan pertahunnya tanpa menyertakan visi dan pesan yang ada di balik masing-masing karya tersebut. 

Disini Eko Purwono menambahkan, arsitek-arsitek muda juga sebaiknya dapat menggali lebih dalam nilai-nilai lokal (local knowledge, local identity, local culture) sehingga menghadirkan desain Arsitektur yang berkarakter local.

Pendekatan Perancangan

Secara umum pendekatan perancangan yang dilakukan Eko Purwono dapat berbeda-beda di tiap-tiap proyek tergantung dari karakter proyek tersebut, kemudian Eko Purwono memasukkan nilai-nilai lokal (local knowledge, local identity, local culture) yang digabungkan dengan material dan teknologi yang tersedia pada daerah setempat sehingga mampu menghadirkan desain Arsitektur yang berkarakter dan bermakna. 


Mengenai preseden arsitektur, menurut Eko Purwono merupakan pendekatan yang paling dekat atau cepat didapatkan oleh arsitek. 

Hal ini disebabkan karena kita sebagai arsitek selalu berhubungan dengan dunia luar dalam memperoleh informasi mengenai arsitektur, baik secara langsung (melihat), atau melalui media. 

Hal tersebut kemudian secara tidak sadar tertanam dalam benak arsitek yang pada saat merancang, yang secara tidak sadar pula, kembali muncul sehingga dapat membantu menghasilkan ide-ide dalam merancang.
Sebagai seorang arsitek, Eko Purwono sangatlah akomodatif terhadap keinginan dari para pemberi tugas. Tujuannya mendesain adalah membuat sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. 

Jadi desain - desain yang ada pada proses awal proyek, bisa saja berubah pada akhirnya. Sesuai dengan komunikasi yang terjadi antara arsitek dan klien selama proses desain terjadi.

Dalam menentukan layout dari sebuah desain disesuaikan dengan kebutuhan yang ada, hal ini tergantung dari pemberi tugas. 


Misalnya untuk bangunan rumah sakit didasarkan kepada kebutuhan fasilitas yang akan disediakan, pada kantor disesuaikan dengan jenis kantor yang diinginkan berdasarkan standar - standar yang baku. 

Sebelum masuk ke perihal desain terlebih dahulu haruslah mempelajari dan mengetahui kondisi masyarakat sekitarnya, kondisi alam di mana bangunan itu akan berada. Bagaimana nantinya bangunan tersebut akan mempengaruhi lingkungan tempat dia berdiri, diusahakan seminimal mungkin agar tidak minimbulkan efek negatif terhadap lingkungan. 

Eko Purwomo sangat consern pada konteks lokal, budaya, dan alam lingkungan sekitar.

Baskoro Tedjo


KARAKTER DAN IKON DALAM PEMAKNAAN SEBUAH FUNGSI BANGUNAN

Manifesto pada Fungsi Bangunan Rumah Tinggal

Hanya ada satu kepribadian dalam satu rumah...
Rumah harus mencerminkan karakter dari si pemakainya, dan karakter itu tidak boleh lebih dari satu, karena rumah harus mempunyai satu karakter tunggal bukan 2 atau lebih yang bisa menimbulkan konflik. Dalam setiap perancangan rumah tinggal, sebenarnya ada dua kemungkinan karakter kepribadian yang bisa dijadikan konteks desain, apakah dari owner atau dari sang arsiteknya. Namun demikian, sebaiknya karakter owner adalah yang paling utama sebab sang owner inilah yang nantinya banyak menghabiskan waktunya dirumah tersebut. 



Karakter sang arsitek bisa dimasukkan apabila karakter dari owner tidak kelihatan, artinya bisa saja sang pemilik rumah menginginkan suatu karakter lain pada konsep huniannya. 


Sesuatu yang perlu diingat disini adalah apabila ada pemaksaan karakter dalam sebuah karya rumah tinggal bisa dipastikan bahwa konsep rumah itu akan mengalami kegagalan, konkretnya bisa dilihat dengan perubahan fungsi ruang yang berbeda dalam bangunan dengan konsep awal akibat ada pemaksaan karakter dari sang arsitek kepada owner. 

Seperti contoh pada bangunan minimalis, apabila dipaksakan pada sebuah rumah dengan karakter penghuni yang bukan minimalis maka fungsinya akan berubah, misalnya dengan penempatan barang yang sembarangan dari sang pemilik dalam kesehariannya (red: bisa ”ancur” menurut Baskoro Tedjo).
Fungsi dari arsitek sendiri dalam perancangan rumah tinggal adalah memberi karakter rumah tersebut sesuai dengan karakter pemiliknya, supaya bisa tampil lebih gaya. 

Caranya adalah dengan membaca kepribadian owner secara keseluruhan. Dengan menggunakan teori spasial order, maka karakter hunian dari sang pemakai harus mendapat perhatian lebih dan bersifat tetap serta tidak boleh dirubah.
Kebudayaan juga merupakan elemen penting yang harus menjadi pertimbangan dalam merancang selain site. Karakteristik arsitektur yang unik muncul salah satunya dengan menggunakan pendekatan budaya dan mengetahui kekuatan dari site. 

Metode desain yang dipakai oleh Baskoro Tedjo dalam setiap perancangannya adalah dengan menggunakan kekuatan kedua elemen ini.

Arsitektur selalu berawal dari site. 


Itulah yang menjadi keyakinan Baskoro Tedjo dalam desainnya. Lingkungan sekitar (environment) baik didalam site maupun diluar site sangat berpengaruh dalam setiap rancangannya. 

Korelasi antara site dan budaya menghasilkan aliran yang menurut dia disebut dengan Contemporary Traditional.

Manifesto pada Fungsi Bangunan Publik

Bangunan publik harus menjadi ikon...
Ikon yang dimaksud disini bukanlah iconic building seperti karya-karya arsitektur avant garde. 


Ikon yang dimaksud disini lebih pada ikon dalam arti ketimuran. 

Artinya adalah bahwa ikon tidak harus berwujud fisik, akan tetapi ikon lebih pada sesuatu yang harus disukai, dihargai, dihormati (affective) dan dipakai serta melekat pada masyarakat. 

Jadi suatu ikon tidak harus berwujud suatu bentukan visual yang “wah” saja, akan tetapi harus menciptakan suatu “attach” atau keterikatan antara masyarakat dengan bangunan itu.  Ikon bisa berwujud visual, historikal, emosional, intelektual, kontekstual, dan lain sebagainya.
Metodenya adalah tetap dengan bangunan harus mengikuti site, karena site sudah menentukan karakter awal bangunan. 

Metode ini sangat relevan mengingat Baskoro Tedjo banyak mendapat ilmu dari Jepang yang nota bene ciri arsitektural bangunan di Jepang sangat memperhatikan site beserta lingkungan sekitarnya sebagai elemen pendukung desain. 

Selain itu gaya contemporary traditional yang kerap dipakainya juga berkorelasi dengan penguasaan dia dalam environment behaviour. 

Sebuah pemahaman mengenai contemporary atau kontemporer disini adalah usaha untuk memaknai kembali (sebuah/sesuatu), sesuai dengan pemahaman dan kesejamanan yang berlaku saat ini (kekinian). 

Selain itu, pengaruh arsitek-arsitek Jepang idolanya seperti Tadao Ando, Kisho Kurokawa, dan Arata Isozaki juga ikut memberikan corak yang berbeda dalam setiap desainnya. 

Ketertarikan Baskoro Tedjo terhadap para arsitek Jepang tersebut, sedikit banyak juga telah mempengaruhi manifestonya dalam di dunia keprofesionalannya.

Makna dari arsitektur bisa sangat sempit, luas serta dapat berbeda-beda, bergantung pada pendekatan perancangan yang dilakukan arsitek dalam merancang sebuah bangunan. 


Berbagai konteks arsitektur memang mengharuskan mengacu kepada aspek keindahan (secara visual). 

Aspek keindahan dalam konteks arsitektur ini biasanya diupayakan sejalan dengan fungsi ruang. Salah satu contohnya dapat dilihat pada proyek Rumah Andonowati yang karyanya berkaitan sebagai sebuah fungsi rumah tinggal dan bangunan publik (red: privat yang di publikkan) pada Selasar Sunaryo Art Space sebagai fungsi art & cultural center. 

Lokasi site bangunan yang sama-sama berada di atas bukit Dago ini mempengaruhi bentuk bangunan yang harus dipertimbangkan secara arif oleh Baskoro selaku arsitek. 

Ciri desain Baskoro yang dikenal “tenang” dan sangat konseptual, kali ini kembali ditampilkan. Karyanya diupayakan disesuaikan dengan sebuah fungsi bangunan yang mengedepankan sebuah karakter dan kedinamisan. 

Karya-karyanya ini dapat dikatakan sebagai arsitektur kontemporer yang responsif terhadap iklim dan lingkungan setempat dengan memanfaatkan sumber-sumber daya yang ada di sekitarnya sebagai acuan dalam merancang. 

Proyeknya tetap berlandaskan prinsip ekonomi tetapi tetap pula mempertimbangkan berbagai aspek lain seperti aspek lingkungan dan aspek hunian modern.

Achmad Deny Tardiana

  Arsitektur Adalah Sebuah Proses Dalam Mengkonstruksi Tapak

Teori dan Manifesto 


Menurut Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD, karya arsitektur yang baik adalah arsitektur yang secara spesifik mampu merespon lokasi di mana bangunan didirikan.  Dalam hal ini, respon tersebut harus dapat memberikan dampak atau kontribusi yang positif terhadap lingkungan tempat didirikannya bangunan. Dengan kata lain Arsitektur harus dapat menunjukkan lokalitas setempat, yang dapat dilakukan dengan respon terhadap site, atau dapat juga dengan pengunaan material setempat. Beliau terkesan dengan ungkapan Tadao Ando: ”Arsitektur adalah sebuah proses dalam mengkonstruksi tapak, Arsitektur muncul secara alamiah atau merupakan respon terhadap tapak.”


Dalam proses perancangan, Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD cenderung menggunakan teori yang berkaitan dengan Fenomenologi sebagai pedomannnya. Antara lain seperti teori tentang Place, Tektonik, serta Materialitas. 

Berhubungan dengan teori tentang materialitas ini, Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD berpendapat bahwa ungkapan arsitektur harus dapat disampaikan seefektif mungkin melalui penggunaan material seminimal mungkin. 

Dalam hal ini arsitek harus pandai mengolah material yang minim agar dapat memperoleh pengungkapan arsitektur maksimal.

Pendekatan Perancangan


Pendekatan perancangan yang dilakukan Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD dapat berbeda-beda di tiap-tiap proyek. Pendekatan tergantung pada karakter atau spesifikasi proyek tersebut, selain juga tergantung pada permintaan atau karakter klien (owner). 

Pendekatan tersebut antara lain dapat melalui preseden arsitektur, ekologi, penggunaan material, serta bentuk.

Mengenai preseden arsitektur, menurut Ir. Achmad D. Tardiana merupakan pendekatan yang paling dekat atau cepat didapatkan oleh arsitek. 

Hal ini disebabkan karena kita sebagai arsitek selalu berhubungan dengan dunia luar dalam memperoleh informasi mengenai arsitektur, baik secara langsung (melihat), atau melalui media. 

Hal tersebut kemudian secara tidak sadar tertanam dalam benak arsitek yang pada saat merancang, yang secara tidak sadar pula, kembali muncul sehingga dapat membantu menghasilkan ide-ide dalam merancang.  

Berhubungan dengan preseden arsitektur ini Ir. Achmad D. Tardiana kemudian berpendapat bahwa sangat sulit untuk menjadi original dalam hal arsitektur, karena kita selalu berhubungan dengan preseden-preseden tersebut, yang kemudian secara tidak sadar mempengaruhi kita dalam menghasilkan sebuah ide.

Pendekatan yang paling sering atau umum digunakan oleh Ir. Achmad D. Tardiana sehubungan dengan teori yang digunakan sebagai pedoman (bahwa arsitektur harus dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan) adalah bagaimana kita mempertimbangkan persoalan-persoalan lingkungan sehubungan dengan didirikannya sebuah bangunan.

Hal ini dapat kita lihat pada saat Ir. Achmad D. Tardiana berpartisipasi pada sayembara perancangan kantor pusat WWF di Jakarta. Beliau menggunakan pendekatan arsitektur hijau dalam perancangannya. Adapun penerapan arsitektur hijau dalam rancangan adalah:
  • Dengan menggunakan bangunan pilotis 
  • Mempertahankan vegetasi eksisting
  • Penggunaan energi pasif (solar cell sebagai energi listrik)
  • Proses recycle, dalam hal ini pengolahan air hujan.
Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD juga melakukan pendekatan melalui penggunaan material pada saat merancang. 

Seperti telah disebutkan diatas, beliau berusaha meminimalkan penggunaan material untuk mengungkapkan ungkapan arsitektur semaksimal mungkin.
Selain beberapa pendekatan tersebut, sehubungan dengan ketertarikan Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD dalam bidang perkotaan, beliau juga melakukan pendekatan secara urban (perkotaan). 

Dalam setiap rancangannya, yang berhubungan dengan konteks perkotaan, selalu dihubungkan dengan dimensi-dimensi perkotaan. Dalam hal ini, sesuai dengan pendapat Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD mengenai respon terhadap lingkungan, bangunan harus dapat memberikan kontribusi positif terhadap kota.

Proses Perancangan


Adapun proses perancangan yang dilakukan Ir. Achmad D. Tardiana sehubungan dengan teori serta pendekatan yang dimilikinya antara lain:

  • Memahami program, termasuk juga memahami klien (karakter maupun keinginan teradap bangunan)
    Yang dimaksud disini adalah bagaimana menghubungkan kelompok-kelompok kegiatan, memahami keinginan-keinginan serta tujuan klien, yang nantinya temanifestasi dalam kebutuhan ruang. Pada saat pemahaman terhadap program ini, sudah muncul gagasan-gagasan ke arah mana arsitektur bangunan dikembangkan (gambaran kasar mengenai desain).
  • Pemahaman terhadap lokasi (menurut Ir. Achmad D. Tardiyana paling penting).
    Bertujuan untuk memunculkan gagasan mengenai bentuk-bentuk arsitektural, bentuk-bentuk ruang yang lebih jelas.Hal ini biasanya dilakukan dengan melihat langsung kondisi site, sehingga dapat memahami potensi serta kekurangan site. Namun apabila terdapat keterbatasan-keterbatasan, dapat dilakukan dengan melihat peta garis, foto udara, atau foto-foto survey. 
  • Kemudian sebelum masuk ke proses desain, menjalin antara gagasan-gagasan (yang muncul pada saat pemahaman program) dengan potensi serta ide yang didapatkan pada saat melihat site. Sehingga pada akhirnya muncul gagasan-gagasan yang lebih fix yang kemudian dituangkan dalam proses desain lebih lanjut.