Blogroll

Diposkan oleh syawal sinaga

More aboutBlogroll

Alexander Santoso

Diposkan oleh syawal sinaga


Alexander Santoso: Penciptaan Kekayaan Perspektifis
Manifesto

Menciptakan kekayaan perspektifis

Dalam setiap disainnya, ia selalu memperhatikan kebutuhan klien. Kebutuhan-kebutuhan klien ini nantinya akan menjadi ide awal dalam sebuah proses disain. Dalam prosesnya, kebutuhan klien ini kemudian diwujudkan dalam jumlah dan besaran ruang. Kemudian bagaimana bentuk masa bangunan terjadi merupakan peran arsitek untuk mewujudkannya.
    Pemikiran paling mendasar dalam penciptaan bentuk masa bangunan adalah, dalam setiap karyanya, dia selalu berusaha untuk ’menciptakan kekayaan perspektifis’. Kekayaan perspektfis adalah, bagaimana kita menciptakan sebuah bentuk, sehingga dari sebuah titik pandang, masa bangunan dibuat kaya dalam bentuk dan sudut pandang. Dalam hal ini, eksplorasi perletakkan masa merupakan hal yang penting, yang tentu saja perletakkan ini harus juga membawa banyak keuntungan bagi interior bangunan.
    Kekayaan perspektifis tidak hanya diterapkan untuk fasad bangunan, namun juga harus dapat dirasakan manfaatnya bagi pengguna bangunan. Dalam menciptakan bentuk-bentuk interior, sequence merupakan hal yang penting. Baginya, sequence tidak hanya mementingkan pergerakan atau sirkulasi di dalam bangunan, namun juga bagaimana menciptkan suasana visual yang berbeda pada setiap titik. Fungsi ruang juga menentukan penciptaan karakter ruang. Misalnya saja, bagaimana sebuah entrance bangunan dibuat sehingga memiliki kesan mengundang, atau permainan suasana tangga, dimana dalam setiap ketinggian tangga, kita dapat melihat pemandangan yang berbeda pula. Hal ini dilakukannya untuk menciptakan pengalaman ruang yang kaya, hal ini tidak hanya dirasakan efeknya secara horisontal, namun harus juga dirasakan secara vertikal.

Konsep dan Visi

Tropikal 

    Semenjak tahun 1993, proyek yang dikerjakan oleh Bapak Alexander berada di Indonesia. Oleh sebab itu, konsep dasar yang selalu digunakan dalam setiap disainnya adalah ’tropikal kontemporer’.
    Baginya tropikal merupakan pendekatan yang paling tepat dalam setiap disain yang ada di Indonesia apapun fungsi bangunannya. Disebut paling tepat karena dengan sendirinya tropikal akan menyelesaiakan masalah-masalah yang dapat ditimbulkan oleh iklim tropis. Penggunaan atap dengan kemiringan tertentu untuk mengalirkan air hujan, penggunaan teritis bangunan yang dapat menciptakan bayangan, penciptaan kolam-kolam untuk mendinginkan iklim setempat, merupakan beberapa contoh pendekatan tropikal.

Spacial Experience

    Menciptakan pengalaman tertentu dengan membuat ruang-ruang yang dinamis dan berkesinambungan. Hal ini diciptakan dengan pembuatan secara mendetail sequence yang akan diciptakan pada interior bangunan.

Time & Place Identity

    Speaks to the moment & place, take risks, transcendence to the future.
    Kontemporer sendiri baginya adalah sesuatu ’untuk saat ini’. Oleh sebab itu, apabila dilihat disain-disain bangunannya dari tahun 1993, maka selalu terdapat perubahan. Perubahan ini baginya terjadi karena setiap masa atau waktu memilki kecenderungan yang berbeda juga, sehingga setiap penciptaan selalu memiliki proses yang berbeda, yang pada akhirnya dapat menciptakan produk yang berbeda-beda juga.
    Kecenderungan ini baginya juga terbentuk karena adanya alam bawah sadar. Belum banyak hal dapat ia ungkapkan disini, karena menurutnya pemikiran mengenai penyelesaian tanpa sadar ini masih dia gali dan kaji. Pada intinya adalah, semakin banyak kita membaca, melihat, dan  merasakan, maka dengan sendirinya masalah-masalah disain, serta penciptaan-penciptaan bentuk, akan terjadi dengan sendirinya. Baginya inspirasi dapat datang dari mana saja, oleh sebab itu, tidak mudah bagi dia untuk mengungkapkan siapakah arsitek yang paling mempengaruhi desain-desainnya. Peter Eisenman, Zaha Hadid, Alvarez-Kala, Tadao Ando, merupakan beberapa arsitek yang memberikan cukup banyak kontribusi pada alam bawah sadarnya. Baginya bukan peniruan gaya, namun bagaimana mencoba merasakan bagaimana ruang-ruang yang diciptakan oleh arsitek-arsitek ini.

Usage

    Usage instead of function
    Dalam disainnya, dia lebih mementingkan kegunaan setiap ruang yang diciptakan daripada hanya memperhatikan fungsi ruang tersebut. Kegunaan tidak hanya berdasarkan fungsi, namun juga kebutuhan pengguna, dan penciptaan atmosfir untuk mendukung kebutuhan pengguna.

Layering & Repetitive
    Multilayer & repetitive elements.
    Untuk menciptakan kekayaan perspektifis, bangunan dibuat multilayer, dengan penumpukan dan penyusunan beberapa masa, baik dalam bentuk masa yang sama ataupun beragam bentuk masa. Hal ini juga berkaitan dengan kegunaan dari setiap masa bangunan.
Repetisi dari elemen bangnan dicipciptakan sebagai pengikat dari masa-masa bangunan yang tercipta.

Balance in / between
    Composition, Proportion, Tone & Color, Surfaces & Materials, Grids, Massive & Transparent Characters, Elements: line, wall, box.
    Keseimbangan dalam seluruh elemen diatas sangat diperhatikan. Semua elemen-elemen tersebut harus saling mendukung dan semuanya bertujuan untuk membentuk karater bangunan sesuai kegunaan pada setiap titik bangunan.
 

Studi Kasus

Permata Hijau House, Jakarta

     Bangunan superimpose.

    Tapak rumah ini berada pada hook jalan. Dalam kasus ini, dia berupaya untuk menciptakan kekayaan ruang tidak hanya bagi penghuni, namun juga bagi lingkungannya. Pada umumnya masa bangunan dibuat berbentuk huruf L, dimana bentuk L tersebut mengikuti sisi jalan, sehingga terbentuklah ’benteng’ yang akan menghasilkan inner court pada bagian tengah bangunan. Namun, bagi Pa Alex, bentuk seperti ini tidak akan memberikan banyak kontribusi pada lingkungan. Oleh sebab itu, maka dia membuat masa huruf L dengan sisi yang menempel dengan dinding tetangga. Dengan begitu, maka akan tercipta ruang terbuka yang lebih besar pada bagian depan bangunan.
    Untuk memisahkan antara ruang dalam dan ruang luar pada ruang terbuka, maka digunakan diding dengan material kaca. Material transparan ini dipilih sehingga tidak membatasi ruang terbuka secara visual, namun dapat memberikan rasa aman dengan kehadiran dinding sebagai pembatas. Kolam sebagai media untuk merubah suhu bangunan dihadirkan disini. Bahkan fungsinya lebih dari itu, kolam juga berfungsi sebagai batas antara ruang luar dan dalam.
Lantai dua pun berbetuk huruf L. Namun perletakannya tidak tepat berada diatas masa L lantai dasar, sehingga dapat menciptakan ruang di belakang huruf L tersebut. Selain itu huruf L ini dibuat lebih panjang. Hal ini untuk menyiasati GSB, dimana pada lantai dasar bangunan harus berada di dalam GSB, sementara lantai dua bisa melebihi GSB tersebut, sehingga volume ruang bisa lenih besar.
Yang menarik dari masa lantai dua ini adalah, masa bangunan diputar pada satu titik untuk menciptakan sudut perspektif yang berbeda. Dengan begitu, maka bangunan seperti memiliki banyak muka. Titik yang diambil sebagai pusat putaran adalah titik dimana apabila perputaran terjadi maka akan selalu menguntungkan untuk interior bangunan.

Tentang Alexander Santoso

    Pencarian identitas diri kami dalam berarsitektur masih berlangsung sampai saat ini. Kalaupun didapati pengulangan gaya design, hal itu merupakan proses evolutif dalam mencari bentuk yang lebih berkarakter. Dunia dan perubahannya yang berlangsung terus menerus,membawa kami untuk bergerak secara responsif terhadap apa yang sudah dan akan terjadi di sekitar kita.
    Tak pernah ada kata cukup bila mengukur karya-karya kami dalam rentang waktu. Dua belas tahun berjalan dalam proses artikulasi ruang tetap menyisakan rencana akan kesempurnaan layanan. Petualangan dalam relasi antara proses dan hasil akhir, mutu dan biaya, masif transparan, berat ringan, kasar ataupun halus adalah permainan yang dapat kami alami, akhiri dan menangkan. Mewujudkan pengalaman unik dengan menciptakan ruang-ruang dinamis dan berkesinambungan, menyusun komposisi dan proporsi massa yang terjaga akan melebur serasi pada keseimbangan faktor kegunaan.
    Ruang-ruang yang tersaji berikut dengan berbagai perubahannya ini harus ditempuh dan dimaknai.Yang kami ketahui hanyalah, esok perjalananan kita lebih baik.
    Selamat berpetualang!
www.wastuciptaparama.com

Curiculum Vitae
Nama        : Ir. Alexander Santoso
Telepon     : 022.2030630
Kantor       : Jln. Neglasari Dalam no. 16 B, Bandung
Website    : www.wastuciptaparama.com

Latar Belakang

  • Kuliah di Universitas Katolik Parahyangan: 1985 
  • Mendirikan Wastu Cipta Parama:1993
Penghargaan
  • Juara Pertama Kompetisi Disain JPO – Halte Trans Jakarta: 2001 
  • Juara Pertama Kompetisi Desain Gereja: 2001
  • Juara Harapan Pertama Desain Rumah Susun: 2001
More aboutAlexander Santoso

Basauli Umar Lubis

Diposkan oleh syawal sinaga


FUNCTIONAL, CHARMING, PROGRAMMATIC ARCHITECTURE

Functional

Titik keberangkatan sikap dalam berarsitektur adalah berangkat dari penggunaan, berangkat dari proses pemikiran bagaimana pengguna menggunakan & mengartikan ruang. Karakter bangunan terbentuk dari  sifat pengguna dan pengunaannya. Arsitektur yang baik adalah ketika arsitektur dapat memenuhi tingkat kebutuhan & kenyamanan dengan baik.Letak tingkat kreativitas arsitek terletak pada bagaimana menterjemahkan dan menjawab kebutuhan dengan baik. Estetika atau bentuk merupakan secondary step. Namun tidak menutup kemungkinan jika bentuk hadir pertama kali didasarkan tujuan/fungsi, seperti halnya bilbao yang hadir dengan tujuan menarik wisatawan. Estetis/Bentuk  lahir dari penggunaan, bukan sesuatu yang diada-adakan. Ruang/simbol dalam arsitektur harus dapat dimengerti oleh pengguna. Dan yang tidak kalahnya pentingnya adalah Karya arsitektur yang baik adalah karya yang dapat di uji.

Studi Kasus
Semarang Golf Club House

Dalam perancangan Club house, penggunanya adalah kelas menengah ke atas. Kelas mengengah keatas memiliki karakter yang mapan. Segi privasi dan keintiman menjadi ukuran penghargaan dari sebuah kemapanan. Pada akhirnya arsitektur yang hadir adalah arsitektur yang memilliki hubungan ruang yang intim dan sophisticated. Ruang yang hadir bukan ruang publik yang terlalu terbuka namun ruang publik yang intim.

Charming

Karya arsitektur akan baik dan akan tetap eksis apabila karya tersebut memberikan kesan mendalam/CharmIng baik dari segi fisik maupun psikologis.  Impresi mendalam tidak harus dicapai dengan sesuatu yang spektakuler, namun dapat tercapai ketika manusia/pengguna merasakan manfaat yang banyak dan kesan yang mendalam bagi pengguna. Kesan charming ini dapat dicapai dengan memperhatikan skala manusia,orientasi, dan sirkulasi manusia selain esensi dasar kebutuhan yang telah terpenuhi. Arsitektur yang anggun adalah arsitektur yang memanusiakan manusia.

Studi Kasus
Semarang Golf Club House

Ketepatan Skala manusia dan kenyamanan pergerakan fisik & visual menjadi pertimbangan utama dalam perancangan club house tersebut. Dengan hal ini maka tingkat kenyamanan tercapai dan secara tidak sadar pengguna/manusia akan merasa menyukai bangunan tersebut.

Programmatic

Program dalam arsitektur merupakan tingkat kreatifitas tertinggi dalam arsitektur. Program dalam arsitektur merupakan pemaknaan dan solusi untuk menjawab kebutuhan. Programmatic memiliki pengaruh besar dalam penentuan arah karya arsitektur. Selain isu kontekstual yang sudah menjadi kewajiban arsitek, arsitek harus melangkah lebih tinggi lagi, untuk bisa mengevaluasi kekuatan tempat. Arsitektur akan baik jika menghasilkan sinergi kegiatan didalam dan hubungannya dengan lingkungan luar.


SITE

Kekuatan tempat merupakan kunci terbentuknya program arsitektur. Kontekstual terhadap site sudah menjadi kewajiban Arsitek, namun diluar itu arsitek harus bisa ke tingkat lebih tinggi lagi. Arsitek harus bisa mengevaluasi site dan menjawab kebutuhan & potensi kekuatan tempat dan menterjemahkannyamelalui  ke dalam program arsitektur.

CONTOH KASUS LAIN PEMIKIRAN
Contohnya dalam Bangunan sekolah berasrama, penggunanya adalah siswa yang belajar serta tinggal di dalam area sekolah.  Dengan melihat ini maka \timbul pemikiran bagaimana mengembalikan suasana/lingkungan rumah dalam lingkungan sekolah. Caranya adalah dengan menghadirkan ruang formal, informal & nonformal. Saat siswa kembali ke hunian diharapkan menjadi manusia yang hidup seperti biasa. Lingkungan sekolah asrama dapat dilihat sebagai saru kesatuan kota.

Dalam bangunan Pelelangan ikan, aktivitasnya adalah pelelangan dan diperlukannya pengawasan. Dengan melihat proses bagaimana manusia beraktivitas maka timbulah bentuk arsitektural bertingkat dua. Pada dasarnya pelelangan ikan hanya terdiri dari satu lantai. Namun dengan melihat aktivitas pengawasan sebagai salah satu bagian yang menentukan wujud arsitektural, munculah bangunan berlantai dua. Selain itu hal ini juga dapat mengakomodasi pertukaran udara. Arsitektur yang hadir tidak di ada-adakan, namun hadir karena penelusuran aktivitas manusia.
More aboutBasauli Umar Lubis

Eko Purwono

Diposkan oleh syawal sinaga


Pragmatic Arsitektur
Menggali Lebih Dalam Nilai-Nilai Lokal

Sekilas tentang Ir. Eko Purwono, Ms. Arch. S
Eko Purwono, sosok arsitek yang dikenal selain sebagai seorang dosen jurusan Arsitektur (kira-kira sudah 29 tahun) di Intitut Teknologi Bandung juga dikenal aktif di Dewan Pendidikan Kota Bandung dan menjabat sebagai Ketua Yayasan MP2I (Masyarakat Pemerhati Pendidikan Indonesia). Karakternya yang dapat dikatakan kritis dalam mengutarakan pendapatnya terutama terhadap dunia pendidikan di Indonesia menggambarkan komitmen Eko Purwono sebagai sosok seorang pendidik serta sebagai arsitek yang memiliki prinsip yang kuat dan dikenal di kalangan komunitas arsitektur baik dari dunia akademisi dan praktisi.

Pandangan Tentang Manifesto Arsitek International
Menurut Eko Purwono, yang dikenal sebagai ahli di bidang Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur, bahwa biasanya yang senang ber-‘manifesto’ adalah arsitek-arsitek muda (penulis mengartikannya dengan arsitek yang berusaha mencari identitas) dan yang paling menyukai manifesto itu adalah arsitek-arsitek italy pada tahun 1919 (jika dibandingkan dengan arsitek Amerika dan Inggris) dan, Eko Purwono juga menambahkan bahwa arsitek dalam berkarya terkadang tidak memiliki konsep atau memakai konsep tetapi tidak dapat menceritakan konsep tersebut, dan Eko Purwono memberi gambaran manifesto yang dilakukan oleh Peter Eisenman, dimana Eisenman mencoba mengganggu tatanan yang sudah ada dan kemudian mampu merumuskan kembali secara akademik setelah itu dijadikan sebagai salah satu sarana menawarkan karya Eisenman kepada masyarakat.

Pandangan Tentang Manifesto Arsitek Indonesia
Arsitek Indonesia sebaiknya memiliki manifesto yang murni dibuat oleh arsitek itu sendiri agar betul-betul terdapat perenungan, pemahaman dan kesadaran yang penuh dalam pencarian identitasnya. Dengan demikian, autobiografi/monograf yang dihasilkan tidak hanya sekedar berisi kronologis perjalanan hidup dengan daftar karya-karya yang dihasilkan pertahunnya tanpa menyertakan visi dan pesan yang ada dibalik masing-masing karya tersebut. Disini Eko Purwono menambahkan, arsitek-arsitek muda juga sebaiknya dapat menggali lebih dalam nilai-nilai lokal (local knowledge, local identity, local culture) sehingga menghadirkan desain Arsitektur yang berkarakter local.

Pendekatan Perancangan

Secara umum pendekatan perancangan yang dilakukan Eko Purwono dapat berbeda-beda di tiap-tiap proyek tergantung dari karakter proyek tersebut, kemudian Eko Purwono memasukkan nilai-nilai lokal (local knowledge, local identity, local culture) yang digabungkan dengan material dan teknologi yang tersedia pada daerah setempat sehingga mampu menghadirkan desain Arsitektur yang berkarakter dan bermakna. Mengenai preseden arsitektur, menurut Eko Purwono merupakan pendekatan yang paling dekat atau cepat didapatkan oleh arsitek. Hal ini disebabkan karena kita sebagai arsitek selalu berhubungan dengan dunia luar dalam memperoleh informasi mengenai arsitektur, baik secara langsung (melihat), atau melalui media. Hal tersebut kemudian secara tidak sadar tertanam dalam benak arsitek yang pada saat merancang, yang secara tidak sadar pula, kembali muncul sehingga dapat membantu menghasilkan ide-ide dalam merancang.
Sebagai seorang arsitek, Eko Purwono sangatlah akomodatif terhadap keinginan dari para pemberi tugas. Tujuannya mendesain adalah membuat sesuatu yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Jadi desain - desain yang ada pada proses awal proyek, bisa saja berubah pada akhirnya. Sesuai dengan komunikasi yang terjadi antara arsitek dan klien selama proses desain terjadi.
Dalam menentukan layout dari sebuah desain disesuaikan dengan kebutuhan yang ada, hal ini tergantung dari pemberi tugas. Misalnya untuk bangunan rumah sakit didasarkan kepada kebutuhan fasilitas yang akan disediakan, pada kantor disesuaikan dengan jenis kantor yang diinginkan berdasarkan standar - standar yang baku. Sebelum masuk ke perihal desain terlebih dahulu haruslah mempelajari dan mengetahui kondisi masyarakat sekitarnya, kondisi alam dimana bangunan itu akan berada. Bagaimana nantinya bangunan tersebut akan mempengaruhi lingkungan tempat dia berdiri, diusahakan seminimal mungkin agar tidak minimbulkan efek negatif terhadap lingkungan. Eko Purwomo sangat consern pada konteks lokal, budaya, dan alam lingkungan sekitar.
More aboutEko Purwono

Baskoro Tedjo

Diposkan oleh syawal sinaga


KARAKTER DAN IKON DALAM PEMAKNAAN SEBUAH FUNGSI BANGUNAN

Manifesto pada Fungsi Bangunan Rumah Tinggal

Hanya ada satu kepribadian dalam satu rumah...
Rumah harus mencerminkan karakter dari si pemakainya, dan karakter itu tidak boleh lebih dari satu, karena rumah harus mempunyai satu karakter tunggal bukan 2 atau lebih yang bisa menimbulkan konflik. Dalam setiap perancangan rumah tinggal, sebenarnya ada dua kemungkinan karakter kepribadian yang bisa dijadikan konteks desain, apakah dari owner atau dari sang arsiteknya. Namun demikian, sebaiknya karakter owner adalah yang paling utama sebab sang owner inilah yang nantinya banyak menghabiskan waktunya dirumah tersebut.
Karakter sang arsitek bisa dimasukkan apabila karakter dari owner tidak kelihatan, artinya bisa saja sang pemilik rumah menginginkan suatu karakter lain pada konsep huniannya. Sesuatu yang perlu diingat disini adalah apabila ada pemaksaan karakter dalam sebuah karya rumah tinggal bisa dipastikan bahwa konsep rumah itu akan mengalami kegagalan, konkretnya bisa dilihat dengan perubahan fungsi ruang yang berbeda dalam bangunan dengan konsep awal akibat ada pemaksaan karakter dari sang arsitek kepada owner. Seperti contoh pada bangunan minimalis, apabila dipaksakan pada sebuah rumah dengan karakter penghuni yang bukan minimalis maka fungsinya akan berubah, misalnya dengan penempatan barang yang sembarangan dari sang pemilik dalam kesehariannya (red: bisa ”ancur” menurut Baskoro Tedjo).
Fungsi dari arsitek sendiri dalam perancangan rumah tinggal adalah memberi karakter rumah tersebut sesuai dengan karakter pemiliknya, supaya bisa tampil lebih gaya. Caranya adalah dengan membaca kepribadian owner secara keseluruhan. Dengan menggunakan teori spasial order, maka karakter hunian dari sang pemakai harus mendapat perhatian lebih dan bersifat tetap serta tidak boleh dirubah.
Kebudayaan juga merupakan elemen penting yang harus menjadi pertimbangan dalam merancang selain site. Karakteristik arsitektur yang unik muncul salah satunya dengan menggunakan pendekatan budaya dan mengetahui kekuatan dari site. Metode desain yang dipakai oleh Baskoro Tedjo dalam setiap perancangannya adalah dengan menggunakan kekuatan kedua elemen ini.
Arsitektur selalu berawal dari site. Itulah yang menjadi keyakinan Baskoro Tedjo dalam desainnya. Lingkungan sekitar (environment) baik didalam site maupun diluar site sangat berpengaruh dalam setiap rancangannya. Korelasi antara site dan budaya menghasilkan aliran yang menurut dia disebut dengan Contemporary Traditional.


Manifesto pada Fungsi Bangunan Publik

Bangunan publik harus menjadi ikon...
Ikon yang dimaksud disini bukanlah iconic building seperti karya-karya arsitektur avant garde. Ikon yang dimaksud disini lebih pada ikon dalam arti ketimuran. Artinya adalah bahwa ikon tidak harus berwujud fisik, akan tetapi ikon lebih pada sesuatu yang harus disukai, dihargai, dihormati (affective) dan dipakai serta melekat pada masyarakat. Jadi suatu ikon tidak harus berwujud suatu bentukan visual yang “wah” saja, akan tetapi harus menciptakan suatu “attach” atau keterikatan antara masyarakat dengan bangunan itu.  Ikon bisa berwujud visual, historikal, emosional, intelektual, kontekstual, dan lain sebagainya.
Metodenya adalah tetap dengan bangunan harus mengikuti site, karena site sudah menentukan karakter awal bangunan. Metode ini sangat relevan mengingat Baskoro Tedjo banyak mendapat ilmu dari Jepang yang nota bene ciri arsitektural bangunan di Jepang sangat memperhatikan site beserta lingkungan sekitarnya sebagai elemen pendukung desain. Selain itu gaya contemporary traditional yang kerap dipakainya juga berkorelasi dengan penguasaan dia dalam environment behaviour. Sebuah pemahaman mengenai contemporary atau kontemporer disini adalah usaha untuk memaknai kembali (sebuah/sesuatu), sesuai dengan pemahaman dan kesejamanan yang berlaku saat ini (kekinian). Selain itu, pengaruh arsitek-arsitek Jepang idolanya seperti Tadao Ando, Kisho Kurokawa, dan Arata Isozaki juga ikut memberikan corak yang berbeda dalam setiap desainnya. Ketertarikan Baskoro Tedjo terhadap para arsitek Jepang tersebut, sedikit banyak juga telah mempengaruhi manifestonya dalam di dunia keprofesionalannya.

Makna dari arsitektur bisa sangat sempit, luas serta dapat berbeda-beda, bergantung pada pendekatan perancangan yang dilakukan arsitek dalam merancang sebuah bangunan. Berbagai konteks arsitektur memang mengharuskan mengacu kepada aspek keindahan (secara visual). Aspek keindahan dalam konteks arsitektur ini biasanya diupayakan sejalan dengan fungsi ruang. Salah satu contohnya dapat dilihat pada proyek Rumah Andonowati yang karyanya berkaitan sebagai sebuah fungsi rumah tinggal dan bangunan publik (red: privat yang di publikkan) pada Selasar Sunaryo Art Space sebagai fungsi art & cultural center. Lokasi site bangunan yang sama-sama berada di atas bukit Dago ini mempengaruhi bentuk bangunan yang harus dipertimbangkan secara arif oleh Baskoro selaku arsitek. Ciri desain Baskoro yang dikenal “tenang” dan sangat konseptual, kali ini kembali ditampilkan. Karyanya diupayakan disesuaikan dengan sebuah fungsi bangunan yang mengedepankan sebuah karakter dan kedinamisan. Karya-karyanya ini dapat dikatakan sebagai arsitektur kontemporer yang responsif terhadap iklim dan lingkungan setempat dengan memanfaatkan sumber-sumber daya yang ada disekitarnya sebagai acuan dalam merancang. Proyeknya tetap berlandaskan prinsip ekonomi tetapi tetap pula mempertimbangkan berbagai aspek lain seperti aspek lingkungan dan aspek hunian modern.
More aboutBaskoro Tedjo

Achmad Deny Tardiana

Diposkan oleh syawal sinaga

  Arsitektur Adalah Sebuah Proses Dalam Mengkonstruksi Tapak

Teori dan Manifesto 
Menurut Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD, karya arsitetur yang baik adalah arsitektur yang secara spesifik mampu merespon lokasi dimana bangunan didirikan.  Dalam hal ini, respon tersebut harus dapat memberikan dampak atau kontribusi yang positif terhadap lingkungan tempat didirikannya bangunan. Dengan kata lain Arsitektur harus dapat menunjukkan lokalitas setempat, yang dapat dilakukan dengan respon terhadap site, atau dapat juga dengan pengunaan material setempat. Beliau terkesan dengan ungkapan Tadao Ando: ”Arsitektur adalah sebuah proses dalam mengkonstruksi tapak, Arsitektur muncul secara alamiah atau merupakan respon terhadap tapak.”
Dalam proses perancangan, Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD cenderung menggunakan teori yang berkaitan dengan Fenomenologi sebagai pedomannnya. Antara lain seperti teori tentang Place, Tektonik, serta Materialitas. Berhubungan dengan teori tentang materialitas ini, Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD berpendapat bahwa ungkapan arsitektur harus dapat disampaikan seefektif mungkin melalui penggunaan material seminimal mungkin. Dalam hal ini arsitek harus pandai mengolah material yang minim agar dapat memperoleh pengungkapan arsitektur maksimal.

Pendekatan Perancangan
Pendekatan perancangan yang dilakukan Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD dapat berbeda-beda di tiap-tiap proyek. Pendekatan tergantung pada karakter atau spesifikasi proyek tersebut, selain juga tergantung pada permintaan atau karakter klien (owner). Pendekatan tersebut antara lain dapat melalui preseden arsitektur, ekologi, penggunaan material, serta bentuk.
Mengenai preseden arsitektur, menurut Ir. Achmad D. Tardiana merupakan pendekatan yang paling dekat atau cepat didapatkan oleh arsitek. Hal ini disebabkan karena kita sebagai arsitek selalu berhubungan dengan dunia luar dalam memperoleh informasi mengenai arsitektur, baik secara langsung (melihat), atau melalui media. Hal tersebut kemudian secara tidak sadar tertanam dalam benak arsitek yang pada saat merancang, yang secara tidak sadar pula, kembali muncul sehingga dapat membantu menghasilkan ide-ide dalam merancang.  Berhubungan dengan preseden arsitektur ini Ir. Achmad D. Tardiana kemudian berpendapat bahwa sangat sulit untuk menjadi original dalam hal arsitektur, karena kita selalu berhubungan dengan preseden-preseden tersebut, yang kemudian secara tidak sadar mempengaruhi kita dalam menghasilkan sebuah ide.
Pendekatan yang paling sering atau umum digunakan oleh Ir. Achmad D. Tardiana sehubungan dengan teori yang digunakan sebagai pedoman (bahwa arsitektur harus dapat memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan) adalah bagaimana kita mempertimbangkan persoalan-persoalan lingkungan sehubungan dengan didirikannya sebuah bangunan.
Hal ini dapat kita lihat pada saat Ir. Achmad D. Tardiana berpartisipasi pada sayembara perancangan kantor pusat WWF di Jakarta. Beliau menggunakan pendekatan arsitektur hijau dalam perancangannya. Adapun penerapan arsitektur hijau dalam rancangan adalah:
  • Dengan menggunakan bangunan pilotis 
  • Mempertahankan vegetasi eksisting
  • Penggunaan energi pasif (solar cell sebagai energi listrik)
  • Proses recycle, dalam hal ini pengolahan air hujan.
Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD juga melakukan pendekatan melalui penggunaan material pada saat merancang. Seperti telah disebutkan diatas, beliau berusaha meminimalkan penggunaan material untuk mengungkapkan ungkapan arsitektur semaksimal mungkin.
Selain beberapa pendekatan tersebut, sehubungan dengan ketertarikan Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD dalam bidang perkotaan, beliau juga melakukan pendekatan secara urban (perkotaan). Dalam setiap rancangannya, yang berhubungan dengan konteks perkotaan, selalu dihubungkan dengan dimensi-dimensi perkotaan. Dalam hal ini, sesuai dengan pendapat Ir. Achmad D. Tardiana, MUDD mengenai respon terhadap lingkungan, bangunan harus dapat memberikan kontribusi positif terhadap kota.

Proses Perancangan
Adapun proses perancangan yang dilakukan Ir. Achmad D. Tardiana sehubungan dengan teori serta pendekatan yang dimilikinya antara lain:

  • Memahami program, termasuk juga memahami klien (karakter maupun keinginan teradap bangunan)
    Yang dimaksud disini adalah bagaimana menghubungkan kelompok-kelompok kegiatan, memahami keinginan-keinginan serta tujuan klien, yang nantinya temanifestasi dalam kebutuhan ruang. Pada saat pemahaman terhadap program ini, sudah muncul gagasan-gagasan ke arah mana arsitektur bangunan dikembangkan (gambaran kasar mengenai desain).
  • Pemahaman terhadap lokasi (menurut Ir. Achmad D. Tardiyana paling penting).
    Bertujuan untuk memunculkan gagasan mengenai bentuk-bentuk arsitektural, bentuk-bentuk ruang yang lebih jelas.Hal ini biasanya dilakukan dengan melihat langsung kondisi site, sehingga dapat memahami potensi serta kekurangan site. Namun apabila terdapat keterbatasan-keterbatasan, dapat dilakukan dengan melihat peta garis, foto udara, atau foto-foto survey. 
  • Kemudian sebelum masuk ke proses desain, menjalin antara gagasan-gagasan (yang muncul pada saat pemahaman program) dengan potensi serta ide yang didapatkan pada saat melihat site. Sehingga pada akhirnya muncul gagasan-gagasan yang lebih fix yang kemudian dituangkan dalam proses desain lebih lanjut.
More aboutAchmad Deny Tardiana

Acmad Noe’man

Diposkan oleh syawal sinaga


ACMAD NOE’MAN
ISLAMIC ARCHITECTURE

Manifesto pada perancangan arsitektur yang islami

Arsitektur yang islami Adalah Arsitektur berlandaskan pada Al-qur’an dan As-sunnah...
Lingkungan binaan tempat seorang arsitek tumbuh dan berkembang, baik secara langsung maupun tak langsung akan mempengaruhi sikap dan pemikirannya. Terdapat beberapa hal yang membentuk konteks pemahaman seorang arsitek dalam melakukan pendekatan terhadap desain. Masa lalu yang kering akan agama menyebabkan Acmad Noe’man mengantinya dikehidupan mendatang, baik didalam kehidupan sehari-hari dan berpraktik di dunia arsitektur. Merasa terpangil oleh hati nuraninya sebagai seorang muslim Acmad Noe’man berusaha menjadi seorang arsitek agar bisa membela agamanya dalam bidang arsitektur. Berbekal pengalaman di masa mudanya yang sering menyaksikan dan mendampingi ayahnya dalam membangun masjid dan sekolah Madrasah Acmad Noe’man inilah yang membuat dirinya sedikit banyak mengenal bangunan-bangunan yang diperuntukan untuk ibadah dan belajar.
Acmad Noe’man adalah seorang Arsitek yang berlatar belakang pendidikan Arsitektur Praktik.. Dalam berkarya beliau selalu berusaha memasukkan nilai-nilai Islam kedalam desainnya. Hal tersebut dimaksudkan beliau agar karya-karyanya lebih bermakna dan dapat dipertangung jawabkan dihadapan Tuhan kelak.
Acmad Noe’man, sebagai seorang Arsitek, banyak tertarik dengan ajaran-ajaran agama Islam, terutama pada kedua landasan agama itu yaitu Al-qur’an dan As-sunnah. sedangkan orang yang cukup berpengaruh pada kehidupannya adalah Muhammad SAW. Khusus pada bidang arsitek Acmad Noe’man mengagumi Lee Corbusier, Miss Van de Rohe, teori-teori Beahus, karena semua itu tidak bertubrukan dengan nilai-nilai islami yang mengajarkan agar tidak menciptakan sesuatu yang berlebih-lebihan. Nilai-nilai islam banyak mempengaruhi manifestasinya dalam berpraktek di dunia arsitektur.
Salah satu Manifesto Acmad Noe’man adalah ” Arsitektur yang islami Adalah Arsitektur berlandaskan pada Al-qur’an dan As-sunnah”
Dalam berkarya arsitektur, Acmad noe’man berusaha memasukkan nilai-nilai yang terkandung pada Al-qur’an dan As-sunnah dan mengimplementasikan pada obyek atau sebuah karya yang berbeda dengan menyesuaikan kebutuhan yang harus dipenuhi pada masing- masing obyek itu. Menurut Acmad Noe’man Arsitektur islami bukan hanya berbicara pada bentuk-bentuk lengkung dan atap kubah karena hal ini tidak berdasar pada Al-qur’an dan As-sunnah. Dua landasan ini selalu dibawa oleh Acmad Noe’man pada karya-karyanya. Tanpa membedakan rancangan yang akan dihasilkannya. Baik itu Masjid sebagai tempat peribadatan atau rumah sebagai tempat tinggal dan juga bangunan-bangunan lain. Dengan dua landasan pada islam ini yang membedakan karya-karya beliau antara arsitektur yang islami dan yang tidak islami. dengan tujuan untuk bisa mengapresiasi secara lebih tinggi, dan di dalam prosesnya elemen Al-qur’an dan As-sunnah diangkat dan dimasukan ke dalam proses desain sejak awal pembentukan konsep bangunan.


Acmad Noe’man menyebutkan bahwa ber-Arsitektur bukan hanya berfikir bagaimana menghasilkan sebuah karya rancangan agar terbangun, tapi lebih memikirkan bagaiman berkarya yang semuanya diniatkan untuk Tuhan, tanpa harus mengesampingkan kebutuhan dan keinginan Klien.

Beliau selalu mencoba mengajarkan nilai-nilai islami atau dengan kata lain berdakwah pada rancangan-rancangannya, Dengan menghadirkan apa yang ada pada kedua landasan islam itu sendiri.
   
Studi Kasus

Masjid salman ITB

Seperti yang telah menjadi manifesto bagi seorang Acmad Noe’man adalah, Arsitektur yang islami adalah yang berlandaskan pada Al-qur’an dan As-sunnah kemudian ijtihad sebagai alternatif terakhir. Dengan berpedoman pada surat Al-baqarah 170 ” jika dikatakan pada mereka ikutlah jalanku, maka mereka berkata tidak kami mengikuti jalan orang-orang terdahulu” dari ayat ini beliau menangkap bahwa seseorang haruslah memberikan pengarahan untuk selalu mencari ilmu sekaligus spirit surat ini menganjurkan untuk mengklarifikasi bahwa apa yang sudah ada selama ini dan turun temurun belum tentu benar. pada masjid ini Acmad Noe’man hendak mengajarkan ayat ini kepada masyarakat luas bahwa bentuk-bentuk masjid yang selama ini ada dan juga bentuk kubah dari atap masjid bukanlah sesuatu yang mencerminkan dan mengandung nilai-nilai islami. Walau begitu Acmad noe’man tidak menyalahkan sepenuhnya atap masjid yang berbentuk kubah. beliau hanya mencoba mengajarkan bahwa tidak selalu harus berbentuk kubah sebuah atap masjid / bangunan yang islami. Di rancangan masjid salman ini dia juga mengambil banyak pedoman dari 3 landasan yang terdapat pada ajaran islam. Seperti islam mengajarkan selalu untuk menjaga kesucian, maka segala hal yang mempermudah untuk dapat menjaga kebersihan dan kesucian di hadirkan disini. Kemudian Acmad Noe’man memakai landasan sebuah hadist ”rapikan shaf dan rapatkan barisan” dari dalil ini beliau mendapatkan pengajaran bahwa sebuah shaf dalam sholat berjama’ah tidaklah boleh terputus dan harus lurus, maka Acmad Noe’man mencoba meniadakan kolom pada sebuah masjid. ini dapat dilihat pada masjid salman.  pada surat Al-baqarah pula Acmad Noe’man mengambil spirit dimana manusia diperintahkan menyebarkan ilmu. Dengan bentuk yang tidak lazim pada tahun 1960, dimana saat itu masjid lebih dominan menghadirkan bentuk lengkung dan tapa kubah maka disini beliau mencoba mengajarkan bahwa tanpa menghadirkan bentuk yang selama ini ada, tidak salah.
Peletakan toilet pada Masjid rancanganya tidak luput dari memakai landasan yang ada pada islam, seperti pada sebuah hadist yang melarang manusia untuk tidak buang air kecil atau besar menghadap kearah kiblat.


Masjid At-tin
“Inallaha jamil yuhibbu jamal” dengan berpedoman pada hadist ini Acmad Noe’man mengimplementasikan pada masjid At-Tin. Karena pada hadist diatas dikatakan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan. Maka nilai-nilai estetis dihadirkan di masjid At-Tin. Seperti karya-karya yang sebelumnya, pada masjid At-Tin ini Ahmad Nu’man memberikan Ruang khusus untuk wanita yang disebut sebagai Mezzanine. Agar wanita tidak terlihat oleh jama’ah laki-laki saat mereka melepas penutup auratnya dan mengantinya dengan pakaian Sholat. Pada masjid At-Tin, Ahmad Nu’man juga menghadirkan minaret sebagai sarana untuk menyebarkan suara Adzan kesegala penjuru dengan berpedoman pada hadist. dimana pada jaman Rasulullah SAW, Para sahabat Nabi mengumandangkan Adzan di atap-atap / tempat yang tinggi agar didengar oleh orang lain. 

Tentang Acmad Noe’man
Karakter yang tenang dan sangat bersahaja. cara berbicara yang sangat halus dan selalu menjaga nilai atau ajaran islam dalam setiap tingkah lakunya menggambarkan bahwa Acmad Noe’man sebagai sosok seorang arsitek yang dikenal di kalangan komunitas arsitektur sebagai sosok seorang Muslim yang taat. Dari pembawaannya inilah kemudian sedikit banyak berperan dalam kehidupan   ber-arsitektur dan mulai dipercaya orang sebagai pakar Arsitektur Masjid dan Arsitektur yang islami. karya-karyanya selalu dihadirkan dengan pedoman nilai-nilai islam yang tinggi tanpa harus meningalkan nilai estetis. Keindahan pada setiap karyanya selalu tampak dan bisa dinikmati oleh orang yang menyaksikanya.Setelah menyelesaikan pendidikan S1 di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1953, Achmad Noe’man langsung berpraktek dalam dunia arsitektur dengan magang pada salah satu biro konsultan, setelah itu Acmad Noe’man bergabung Dalam sebuah wadah organisasi Arsitek, yaitu IAI (Ikatan Arsitektur Indonesia). Kemudian Acmad Noe’man mendirikan perusahaan yang lebih dinamakan Birano. Karya-karyanya banyak memberi warna dan menjadi rujukan terutama Arsitektur Masjid di Indonesia. Selain itu di luar Indonesia Acmad Noe’man turut meramaikan dunia Arsitektur dengan merancang beberapa karya. Terutama Arsitektur Masjid.

Curiculum Vitae
Nama    : Ir. Acmad Noe’man ,IAI
Tempat/Tanggal lahir    : Garut, 10 Oktober 1926
Handphone    : 081 660 07 33
Kantor    : Jalan Ganesha 03 - Bandung 40132
      Telp. 022 250 4145  
      Birano, ganesha 03 Bandung 40132

Riwayat Pendidikan
•    Institut Teknologi Bandung, Indonesia: 1948-1953

Riwayat Pekerjaan
•    1954-1956: Asisten dosen Jurusan Arsitektur ITB
•    1956- 1961: Staff pengajar tetap Jurusan Arsitektur ITB
•    1961-1999: Staf pengajar Jurusan Desain dan Seni Rupa ITB dan Pimpinan CV.Birano


More aboutAcmad Noe’man

M. Ridwan Kamil

Diposkan oleh syawal sinaga

M. RIDWAN KAMIL :
ANALOGI DALAM SEBUAH KARYA ARSITEKTUR

Ada 4 teori yang selalu dipakai oleh Ridwan Kamil dalam merancang :
1. Teori Analogi
 Dalam merancang sebuah ruang diperlukan nilai-nilai, simbol yang merupakan analogi dari bangunan tersebut. Dengan merespon terhadap konteks yang ada, mencari sesuatu yang unik dari poyek yang ada. Dengan analogi bisa membuka cakrawala kemungkinan-kemungkinan bentuk yang baru.
2. Teori Folding
Rancangan suatu ruang bisa dihasilkan dari proses melipat. Membuat proses membentuk dengan melipat sebelum membuat denah bangunan.
3. Green Architecture
4. Creating Programming,
Isi dari suatu ruang atau lay out dari sebuah ruang menjadi expresi luar dari bangunan

M. Ridwan Kamil termasuk tipe arsitek Non Signature Architect dimana dalam merancang/ mendesain, desainnya tidak dapat ditebak karena stylenya berubah-ubah. Menurut M. Ridwan Kamil, teori arsitektur selalu menjadi dasar bagi rancangan karya arsitekturnya karena dengan adanya dasar teori, karya arsitektur yang dihasilkan memiliki nilai lebih tinggi. M. Ridwan Kamil hampir selalu menggunakan dasar analogi dalam beberapa karyanya. Baginya analogi merupakan suatu cara menghubungkan karya arsitektur dengan ‘konteks’nya. Dengan dasar analogi ‘konteks’ bisa berarti budaya, spirit, ciri khas, sampai philosofi. Dengan dasar analogi juga akan membuat argumentasi desain bisa dipahami oleh klien, membuat kita sebagai arsitek tertantang mencari cara baru dalam menginterpretasikan sebuah desain. Bagi M. Ridwan Kamil semua projet harus ada ceritanya. Dengan adanya analogi akan membuat sebuah cerita bagi project tersebut.

Studi Kasus

Gerbang Kemayoran
Analogi Experimental dijadikan dasar teori dari gerbang kemayoran

Menghasilkan sebuah gerbang seolah-olah sebuah gapura tapi bukan benda fisik
Konsep rancangan gerbang kawasan kemayoran ini didasarkan pada aplikasi yang fleksibel dari media-media non-arsitektural, seperti cahaya, lampu, dan air. Hal ini dimaksudkan agar suasana gerbang bisa terjadi secara dramatis dan bisa diatur berdasarkan kegiatan-kegiatan di Kemayoran yang dapat berubah-ubah (event-based effects).
Efek ruangan yang terjadi antara lain bisa berupa efek langit-langit virtual dengan aplikasi deretan lampu sorot. Bisa juga berupa efek awan menggantung dengan aplikasi buih air tekanan tinggi dan bisa berupa efek hutan bintang dengan aplikasi titik-titik lampu spot yang acak.
Konsep portal cahaya ini dirancang dengan menempatkan titik-titik lampu di ujung tiang-tiang vertikal primer yang berbaris rapi. Pancaran cahaya dari deretan lampu yang dipasang di kiri dan kanan poros jalan utara-selatan itu secara unik akan membentuk dinding langit-langit virtual yang dibentuk cahaya
Konsep kapono awan dirancang dengan menempatlan titik-titik lubang air bertekanan tinggi pada tiang-tiang sekunder yang melengkung natural. Tekanan tinggi ini diatur sedemikian rupa sehingga air yang keluar hanya berupa buih-buih yang tipis dan transparan.
Dikarenakan dirancang dengan jumlah cukup banyak, kumpulan buih air ini secara bersamaaan akan membentuk awan raksasa yang meneduhkan sekaligus mendinginkan iklim mikro ruang di bawahnya.
Adapun konsep hutan bintang ini dirancang dengan menempatkan titik-titik lampu spot pada tiang-tiang sekunder yang melengkung natural. Kumpulan lampu-lampu ini yang diletakkan secara acak membentuk efek yang mengingatkan pada bintang-bintang di langit.
Kawasan gerbang ini juga dirancang tidak hanya untuk efek visual semata, tetapi juga diskenariokan untuk dapat menstimulasi kegiatan-kegiatan pedestarian yang positif. Kegiatan seperti bermain, duduk istirahat, dan jalan kaki diharapkan hadir di area kawasan gerbang ini.

Bakri JSX
Bangunan Bakri JSX adalah kantor pusat saham pada area Rasuna Epicentrum. Bentuk kumpulan uang recehan menjadi dasar analogi dari bangunan ini.

Hotel Sahid Perdana
Pemilik dari proyek hotel Sahid Perdana ini menginginkan arsitektur jawa. Menurut Ridwan Kamil arsitektur jawa itu bukan bentuk Joglo tapi spiritnya. Sehingga diambil analogi dari lotus kembar, yang merupakan spirit budaya jawa. Teratai kembar ini jika terkena air surut atau pasang selalu kompak mengikuti pergerakan air tersebut.

Gramedia Expo Surabaya
Teori yang menjadi dasar bangunan ini adalah teori folding, dimana proses rancangan suatu ruang dihasilkan dari proses melipat sebelum membuat denah bangunan

Depkop Convention Hall
Teori yang menjadi dasar bangunan ini adalah teori folding.

Curiculum Vitae
Name     :    M. Ridwan Kamil, ST., MUD
Address    :    Jl Dago Pojok 1/6, Bandung
Tempat / Tanggal Lahir    :    Bandung, 4 October 1971
Kantor     :    Jurusan Arsitektur ITB, Ganesha 10 - Bandung 40132
        Urbane Indonesia

Riwayat Pendidikan
•    Master of Urban Design, College of Environmental
    Design, University of California-Berkeley, USA, 2001
•    Bachelor of Architecture at the Institute of  Technology
    Bandung (ITB), Indonesia, 1995

•    National University of Singapore, 1994

Riwayat Pekerjaan
•    1997 – 1999: Junior Architect, HOK Architects (New York)
•    2000 – 2003: Senior Architect & Urban Designer, SOM Architects (San Francisco & Hongkong)
•    2003 – Sekarang: Senior Urban Deisgn Consultant for EDAW San Francisco & EDAW Asia

•    2003 – Sekarang: Principal, Senior Architect, Senior Urban Desinger PT. Urbane Indonesia.


M. Ridwan Kamil adalah salah satu sosok yang sangat menghargai kehidupan, baginya hidup ini hanya sekali. Sehingga dalam kehidupan ini kita harus bermanfaat bagi orang lain. Karena itu selain sebagai arsitek profesional, beliau juga adalah seorang dosen dimana dengan menjadi seorang dosen, Moh. Ridwan Kamil bisa membagikan ilmu kepada semua orang.
More aboutM. Ridwan Kamil

Yuswadi Saliya

Diposkan oleh syawal sinaga


Bentuk-bentuk Geometris yang sederhana, Topografi Tapak dan Teori Arsitektur Modern

Manifesto Dalam Mendesain

Bentuk-bentuk geometris yang sederhana, topografi tapak dan teori modern.
Architype Yuswadi Saliya adalah pendekatan desain secara geometris. Selain itu ada faktor lain dalam pendekatan desainnya, yaitu bentuk topografi tapak, riwayat tempat tersebut yang berkaitan dengan sejarahnya, serta respon terhadap lingkungan sekitarnya dan dalill-dalil dari teori arsitektur modern.
Langkah awal mendesain adalah dengan membaca bentuk tapaknya. Menurut pengakuan beliau bila tidak mengetahui bentuk tapaknya, akan sukar untuk dapat mendesain, kecuali merancang  sebuah bangunan yang desainnya mengacu kepada salah satu bentuk tipologi bangunan dan dapat diletakkan di banyak tempat. Menurutnya setiap bentuk tapak mempunyai anatomi yang khas, seperti dimana letak tulang punggungnya (garis sumbu imajinernya), dimana sendi-sendinya. Setelah peta itu (tapak, red.) dapat dibaca sumbunya bagaimana, kemudian dapat ditetapkan bagaimana hirarki, orientasi, dlsb., dari informasi yang terdapat pada peta tersebut. Lalu dari orientasi yang ada sumbu tadi dikoreksi kembali. Langkah selanjutnya adalah meresponnya terhadap riwayat dan kondisi lingkungan sekitarnya, baru kemudian Beliau dengan cepat dapat menarik-narik garis yang membentuk geometri sesuai dengan bentuk dan orientasi tapak tersebut.

Setiap tempat mempunyai orientasi yang berbeda tergantung dari kondisi topografinya. Dalam menarik garis-garis pembentuk geometris ada dalil-dalil dan tuntutan-tuntutan, sehingga mempunyai alasan, seperti bila membuat bentuk kurva, apa pegangannya. Menurut beilau bahasa geometri ada aturan-aturannya ada istilah geometri thinking (berpikir geometris). Bisa dibayangkan, seperti ada suatu pola-pola perulangan, pola-pola yang konsisten dalam skala, dalam volumetri, dll. Untuk pengolahan tampak bangunan, beliau menggunakan aturan-aturan dari teori arsitektur modern seperti komposisi, keseimbangan, proporsi, perbandingan golden section, dll. Sedikit banyaknya rumusan teknis modernis tadi beliau gunakan yang menurutnya belum ada tandingannya apalagi dibandingkan dengan rumusan post- modern yang dinilainya masih liar. Kemudian dalam memberikan unsur estetika dan warna menurutnya semua orang akan setuju atau mempunyai persepsi yang sama bila penjabarannya menggunakan teori arsitektur modern. Tanpa mengikuti itu beliau tidak dapat menjelaskan desainnya kepada orang lain, dan dari ketentuan-ketentuan tersebut beliau dapat menyiapkan kategorisasinya, kemudian terdapat kronologisnya yang akhirnya dijadikan bentuk verbalnya sebagai bahan untuk menjelaskan kepada orang lain. Menurutnya agar mendapatkan kepuasan dalam mendesain, hasil desain itu harus bisa dibaca, kalau tidak bisa dibaca sepertinya hanya terjadi dengan kebetulan saja sehingga tidak bermakna.

Architype
Biasanya para Arsitek dalam merancang akan sesuai dengan semangatnya, visinya, kemudian sikap dia terhadap arsitektur itu apa, sikap dia dalam proses merancang itu bagaimana. Apa yang disebut teori sebenarnya suatu generalisasi dari berbagai cara para arsitek, dari pendekatan-pendekatan beberapa arsitek yang sifatnya umum. Pandangan seorang arsitek sangat tergantung kepada pandangan dia (jadi bisa subyektif). Misalnya pandangan geometri saya, itu karena saya senang geometri. Bagi saya Geometri adalah suatu bentuk bahasa yang mudah diolah. Jadi menterjemahkan suatu gagasan dengan geometri bagi saya dekat hubungannya, tidak terlalu jauh. Kemudian, bahwa bentuk geometri menjadi sifat utama arsitektur saya, adalah suatu kebetulan saja. Misalnya saya menjadi pelukis, karena saya suka geometri maka nantinya akan banyak bentuk geometri dalam lukisan saya.
Seperti teori Paul Gustav Jung dalam bukunya tentang Architype, bahwa architype hinggap di setiap orang dan dapat muncul dalam berbagai bentuk kehidupannya, baik dalam perilakunya, kegemarannya terhadap lagu-lagu, pada warna, dll. Misalnya seseorang senang dengan warna merah, sebenarnya menurut teori Jung dapat ditelusuri kebelakang, dia pernah mengalami apa, pernah mempunyai alasan apa hingga menyukai warna merah. Architype-nya yang tua/purba didalam ingatan seseorang, kelihatannya sadar atau tidak, akan ada hubungannya (dengan kesenangannya, red.). Nilai rapor ilmu ukur bidang dan stereometri saya bagus-bagus, makanya saya dekat. Bahwa saya mendekati secara geometris karena itu Architype saya.

Yuswadi Saliya

Adalah seorang Doktor di bidang arsitektur yang sangat bersahaja dan senang dengan bentuk geometri, senang dengan bidang kelautan (maritim), dan predikat sejarawan arsitektur yang terlanjur melekat dalam dirinya. Awalnya saat pemerintahan Ir. Soekarno, dosen-dosen ITB yang berkebangsaan Belanda dipulangkan ke negaranya, sementara jumlah dosen sejarah arsitektur di ITB masih kurang. Akhirnya Ir. Yuswadi Saliya yang ketika itu sebagai assisten dosen di bidang arsitektur, diminta untuk menjadi dosen sejarah arsitektur. Karena dedikasinya yang baik sebagai insan pendidikan, walaupun awalnya tidak terpikir untuk mendalami bidang sejarah, hingga akhirnya beliau dapat mendalami dan menjiwai bidang tersebut. Akibat dari pengabdiannya dibidang sejarah, beliau memperoleh hikmah akan makna ilmu sejarah bagi disiplin iilmu yang lain, khususnya dibidang arsitektur. Baginya sebaik apapun sebuah bangunan bila tanpa memiliki keterkaitan dengan nilai sejarah atau menelaah sejarah yang ada, terutama riwayat mengenai lokasi bangunan itu berdiri, maka bangunan tersebut hanyalah sebuah bangunan belaka yang dapat diletakkan dimana saja di dunia ini sehingga kurang mempunyai makna tertentu. Dan hikmah lainnya adalah, sejak 1989 hingga kini beliau dipercaya sebagai ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia (LSAI).
Ketertarikannya terhadap arsitektur bermula karena interaksi beliau terhadap lingkungannya. Pada masa SMA beliau sering membaca jurnal-jurnal arsitektur di perpustakaan British Concul Bandung. Dari buku-buku itu beliiau dapat dengan cepat memahami gambar-gambar denah, tampak, sehingga akhirnya senang. Tidak seperti sebagian orang yang merasa sukar untuk memahami stereometri atau ilmu ukur ruang, sehingga tidak senang. Dan kebetulan kala itu ada mahasiswa arsitektur yang mondok di rumah orang tuanya, dan Beliau sering pula memperhatikan mahasisiwa tersebut menggambar serta membuat tugas kuliahnya, sehingga menambah ketertarikannya di bidang arsitektural.

Curiculum Vitae
Nama                              : DR. Ir. Yuswadi Saliya, M.Arch.
Tempat / Tanggal lahir      : Bandung, 15 Juni 1938.
Alamat                            : Kompleks Dosen ITB, jln. Kanayakan A/4, Dago Atas, Bandung.
Telp.                               : 022-2503971
Riwayat Pendidikan          :

  • Lulus dari Departemen Arsitektur ITB – tahun 1966. 
  • Master of Architecture  diperoleh dari University of Hawaii at Manoa , Honolulu, USA, Dengan beasiswa dari The East – West Centre (1973- 1975 ) .
  • Program Doctor di Departemen Arsitektur, ITB , 1997.  
Perjalanan Karier  :
  • 1977-1979 , Sekertaris Departemen Arsitektur, ITB. 
  • 1979-1985 , Ketua Departemen Arsitektur, ITB.
  • 1985-1987 , Pembantu Dekan Bidang Akademik , Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, ITB. 
  • 1970-1973 ; 1975-1984 , Anggota Badan Pendidikan ITB . 
  • 1988-1992 , Anggota Badan Riset ITB. 
  • 1966- sekarang , - Senior Architect –AT – 6 .
                          - Senior Lecturer –ITB .
  • 1989- sekarang : - Chairman of LSAI (Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia).
                               - Internasional Jury of Agha Khan Awards.
                          - National Jury of IAI.
                          - Juri SAA - Awards , UNPAR.

SELECTED PROJECTS : 

  • Hilton Executive Club di Jakarta , sebagai arsitek utama , 1971-1973. 
  • Anjungan DKI , di TMII , arsitek utama , Pemenang Sayembara, 1972.
  • Rumah Dinas Rektor ITB , arsitek, 1972.
  • Rumah Tinggal di Cisatu , Bandung 1990.
  • Gedung Departemen Arsitektur , ITB , arsitek utama / koordinator , 1997-1998.
  • Desain Logo Ikatan Arsitek Indonesia IAI.

Studi Kasus
Hilton Executive Club, Jakarta
Beliau mengambil bentuk geometri dasar piramida. Di sini saya merancang dengan bermain-main dengan bentuk segitiga sementara pertimbangan-pertimbangan perkotaan menjadi kendala yang harus ditaati. Bangunan tidak bisa tinggi, agar tidak menghalangi pandangan orang dari Jembatan Semanggi ke arah Stadion Senayan. Konsep rancangan lebih diutamakan pada aspek fungsionalnya, yaitu terbuka terhadap publik. Bentuk bangunan dipilih bentuk yang modern sama sekali, dan mengambil presedens dari bentuk yang sudah ada, yaitu piramida.

Anjungan DKI Jakarta, TMII Jakarta
Konsep utamanya adalah mencari bentuk yang mewakili daerah Jakarta. Beliau tidak mengikuti arsitektur vernakular, dan lebih mengelaborasi bentuk-bentuk yang modern, karena Jakarta adalah kota modern yang tidak memiliki ciri khusus. Pencarian bentuk kemudian tertuju pada ide-ide universal tentang arsitektur. Sehingga akhirnya jadilah sebuah bangunan yang berdasar pada bentuk ”yoni” dari Monas. Dan desain ini menang dalam sayembara.

Rumah Dinas Rektor ITB, Bandung
Pada kasus ini terbentur oleh kebijakan terhadap rumah dinas, yang menyebabkan luasan 300-400 m2. dibuat menjadi seperti 3 unit rumah. Ketiga massa bangunan tersebut dihubungkan oleh ruang pertemuan yang bersifat terbuka. Bentuk bangunan mengikuti konsep geometris dan tropis.

Tempat Pertemuan terbuka, yang mempunyai fungsi lain sebagai penghubung anatar unit rumah, yang sebenarnya adalah merupakan satu unit rumah.

Gedung Departemen ITB
Karena tapak terletak dilokasi yang sudah terstruktur, maka pada desain Gedung Departemen Arsitektur tidak terlalu melihat benturk morfologi tapak. Bentuk bangunan dipilih yang modern dan tropis serta mengikuti ciri khas bentuk bangunan di kampus ITB. 

Rumah Tinggal Di Cisatu, Bandung
Direncanakan pada lahan ber Lereng dengan konsep split  level. Komposisi bentuk-bentuk geometris dalam tatanan yang sesuai dengan lahan berlereng tersebut. Konsep atap tropis dengan kemiringan 30 yang menyatu dengan alam. Akan tetapi tinggi plafondnya hanya 2,70 m. Sehingga bangunan tersebut berkesan rendah.


Desain Logo IAI
Menggunakan bentuk geometris yang sederhana, Huruf IAI dilambangkan layaknya sebuah bangunan yang melambangkan pergerakan pembangunan di lingkungannya. Lingkungannya dilambangkan dengan bentuk lingkaran yang bawahnya terpotong oleh datarnya lahan / bumi. Perbandingan jarak tebal garis dan komposisi mengikuti aturan golden section.
More aboutYuswadi Saliya

Arsitek lain yang mungkin Anda suka :